Ini buku pertama Nawal yang aku baca. Banyak orang memuji-muji buku karyanya, pemikirannya tentang perempuan, penindasan dan kemerdekaan. Aku membuktikannya sekarang.
Nawal menceritakan negaranya juga negara-negara yang dia kunjungi. Indonesia bukanlah salah satu negara yang dia kunjungi dalam buku bagian pertama ini. Namun, melihat negara-negara yang dia ceritakan, seperti melihat Indonesia. Plus... seperti melihat diriku, diri bangsaku, pemerintahnya, karakter bangsa, pola pikir, termasuk penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri.
Nawal berbicara, bagaimana perempuan masih dianggap sebagai penduduk kelas dua. Dia mengaitkan penindasan perempuan sebagai bagian dari ketidakmerdekaan bangsa. Di India, misalnya, bagaimana perempuan dibayar murah untuk tenaga yang mereka keluarkan selama 9 jam sehari. Peran yang mereka jalankan dari sisi ekonomi, sosial, pun domestik. Nawal seolah-olah menertawakan orang-orang pintar di banyak negara maju itu, bagaimana mungkin mereka yang mengaku berpendidikan, masih berfikir bahwa pada kodratnya, perempuan itu adalah makhluk berdosa. Di beberapa daerah, bahkan ketika sang suami mati, perempuan harus dikubur bersamanya, karena dia dianggap penyebab kematian suaminya.
Sedikit aneh. Tetapi bukankah banyak dari kita, somehow, punya pemikiran seperti itu?
Berbicara tentang negara berkembang, berarti berbicara tentang 'western minded' dan NGO. Itu pulalah yang dikupas Nawal. Bangsa dijajah bangsa sendiri, bagaimana dia harus menggunakan bahasa Inggris di negaranya sendiri, hanya supaya dia diperlakukan lebih hormat. Di negaranya sendiri, mereka lebih menyukai bahasa Inggris, bukan bahasa nasional mereka. Bukankah itu juga yang terjadi di Indonesia?
Dia bercerita, bagaimana bantuan-bantuan yang datang ke negara berkembang itu, bukanlah membantu, tetapi, selain membantu negara maju itu, juga malah membuat ketergantungan terharap kapitalisme. Dia menertawakan NGO-NGO, termasuk UN (atau khususnya UN?) yang membuat seminar di tempat mewah, dengan pesta yang wah, dengan pakar yang sebenarnya (tolol?) yang kemudian hanya memutar-mutar isu di seputar kemiskinan untuk kemudian membuat seminar yang sama tahun depannya. Di tempat yang lagi-lagi mewah... tetapi membicarakan kemiskinan.
Membaca buku ini, seperti melihat wajah negeri sendiri.
