Monday, November 19, 2007

By River of Piedra I Sat Down and Wept

Ini buku favorit kedua dari sekian banyak bukunya Paolo Coelho. Yang pertama tentu saja The Alchemist. Yang ketiga, aku suka The Zahir. Aku tidak terlalu mengerti tentang konsep The Fifth Mountain. Walaupun aku sangat ingat, dalam buku inilah, istilah favoritku tentang Satu-satunya doa yang tidak akan dikabulkan Tuhan adalah ketika kita meminta untuk tidak mencintai seseorang kutemukan.

Buku ini berbicara tentang kisah cinta. Cinta yang dimulai di masa kecil, waktu teen-age. Dua orang sahabat, selalu bersama ke manapun mereka pergi, hingga suatu hari sang pria pergi berkelana. Pilar, si gadis, melanjutkan sekolah dan mimpinya (pertanyaan: apakah dia pernah punya mimpi sebelum bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya?).

Ada banyak cerita menarik yang ditampilkan dalam perjalanan mereka menemukan 'hati' Pilar. Aku suka menggunakan istilah 'hati' Pilar, karena Pilar-lah yang belum menemukan 'hati'nya sedangkan si pria sudah tahu perasaannya sejak lama, kecuali, bahwa dia tidak tahu apakah dia akan meneruskan hidupnya bersama Pilar, atau menjadi imam, yang selibat, seperti yang selama ini dia pikir dia inginkan.

Belajar tentang cinta yang memberi, kudapatkan di buku ini. Kita memberi apa yang kita rasa yang terbaik untuk pasangan kita, meski itu berarti kita harus mengorbankan apa yang kita punya, apa yang kita impikan. Dan kita tidak merasa terpaksa. Karena memang cinta berarti memberi. Tulus.

Pilar, berencana melepaskan mimpinya. Mengikuti sahabat masa kecilnya yang akhirnya dia cintai. Sayangnya (?) di sisi lain, si pria, melepaskan karunia yang dia punya, sehingga dia dan Pilar bisa menghabiskan hidup bersama, di rumah impian mereka, dengan semua isinya dan anak yang nanti akan mereka miliki. Mereka melepaskan semua yang mereka sayang untuk orang yang mereka sayang. Bila salah seorang melepaskan sesuatu untuk impian orang yang mereka sayang, rasanya sangat romantis. Lalu bagaimanakah jadinya bila mereka saling melepaskan impian mereka untuk impian pasangan masing-masing yang justru sudah melepaskan impiannya?

Persis seperti ilustrasi yang dicerita seorang nenek tua di buku ini: dua orang sahabat sudah mencintai sejak kecil, mereka sangat miskin bahkan sampai mereka dewasa. Ketika dewasa, mereka memutuskan untuk menikah. Menjadi budaya di sana, sang mempelai akan saling bertukar hadiah. Si gadis memiliki rambut panjang jadi sang pria ingin membelikannya jepitan, jadi dia menjual satu-satunya harta yang dia miliki, jam tangannya untuk membelikan mempelainya jepitan. Si gadis, menjual rambut panjangnya, untuk membelikan si pria tali jam baru. Pada hari pernikahan mereka, si gadis memberikan hadiah tali jam untuk jam tangan yang sudah dijual si pria untuk rambut si gadis yang sudah dipotongnya. Ironis.

Karena itu, Pilar duduk di sungai Piedra dan menangis.

No comments: