Friday, November 30, 2007

Perjalananku Mengelilingi Dunia-Nawal el Saadawi


Ini buku pertama Nawal yang aku baca. Banyak orang memuji-muji buku karyanya, pemikirannya tentang perempuan, penindasan dan kemerdekaan. Aku membuktikannya sekarang.

Nawal menceritakan negaranya juga negara-negara yang dia kunjungi. Indonesia bukanlah salah satu negara yang dia kunjungi dalam buku bagian pertama ini. Namun, melihat negara-negara yang dia ceritakan, seperti melihat Indonesia. Plus... seperti melihat diriku, diri bangsaku, pemerintahnya, karakter bangsa, pola pikir, termasuk penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri.

Nawal berbicara, bagaimana perempuan masih dianggap sebagai penduduk kelas dua. Dia mengaitkan penindasan perempuan sebagai bagian dari ketidakmerdekaan bangsa. Di India, misalnya, bagaimana perempuan dibayar murah untuk tenaga yang mereka keluarkan selama 9 jam sehari. Peran yang mereka jalankan dari sisi ekonomi, sosial, pun domestik. Nawal seolah-olah menertawakan orang-orang pintar di banyak negara maju itu, bagaimana mungkin mereka yang mengaku berpendidikan, masih berfikir bahwa pada kodratnya, perempuan itu adalah makhluk berdosa. Di beberapa daerah, bahkan ketika sang suami mati, perempuan harus dikubur bersamanya, karena dia dianggap penyebab kematian suaminya.

Sedikit aneh. Tetapi bukankah banyak dari kita, somehow, punya pemikiran seperti itu?

Berbicara tentang negara berkembang, berarti berbicara tentang 'western minded' dan NGO. Itu pulalah yang dikupas Nawal. Bangsa dijajah bangsa sendiri, bagaimana dia harus menggunakan bahasa Inggris di negaranya sendiri, hanya supaya dia diperlakukan lebih hormat. Di negaranya sendiri, mereka lebih menyukai bahasa Inggris, bukan bahasa nasional mereka. Bukankah itu juga yang terjadi di Indonesia?

Dia bercerita, bagaimana bantuan-bantuan yang datang ke negara berkembang itu, bukanlah membantu, tetapi, selain membantu negara maju itu, juga malah membuat ketergantungan terharap kapitalisme. Dia menertawakan NGO-NGO, termasuk UN (atau khususnya UN?) yang membuat seminar di tempat mewah, dengan pesta yang wah, dengan pakar yang sebenarnya (tolol?) yang kemudian hanya memutar-mutar isu di seputar kemiskinan untuk kemudian membuat seminar yang sama tahun depannya. Di tempat yang lagi-lagi mewah... tetapi membicarakan kemiskinan.

Membaca buku ini, seperti melihat wajah negeri sendiri.

Edensor


Buku ketiga Andrea Hirata, Edensor sama menariknya sama dua buku sebelumnya. Sama sekali tidak jelek... sangat-sangat... Andrea!

Di buku ini, kita diperkenalkan dengan kekayaan ilmu pengetahuan Andrea. Kita diajak mengenali bintang-bintang penunjuk arahnya. Kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh lain yang banyak mempengaruhi hidup dan cara pandangnya. Mulai dari 'loser' Weh, Mak Birah, Arai, Aling dan Andrea, perempuan Italia, dari sana namanya diambil.

Edensor, adalah judul buku yang diberikan Aling, cinta pertama si Ikal yang diberikan sebelum perempuan itu pergi ke Jakarta. Dalam buku ke dua, Andrea menceritakan kalau buku itu sampe lecek karena dibaca terus.

Buku ketiga, menceritakan jatuh bangunnya dalam kuliahnya. Teman-temannya. Keterpurukan bangsa kita, mahasiswa Eropa yang sangat kompetitif pun juga persahabatannya dengan Arai yang masih saja manis. Di buku ini, Ikal pacaran dengan salah seorang bule... still dia masih mengakui betapa dia tidak bisa mengikuti pola pacaran 'ala' bule. Ah... aku menyukai kejujuran Andrea.

Sekali lagi tentang mimpi, di buku inipun, sekali lagi Andrea mengingatkan, lewat Arai... bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Mereka bermimpi sekolah ke Paris... dan itu menjadi kenyataan. Mereka bermimpi berkeliling Eropa, mereka melakukannya, dengan cara yang sama sekali tidak terpikir. Mereka bermimpi ke Afrika? Mereka sampai di sana, menuliskan nama sahabat mereka-Jimbron di sana!

Mimpi... dia bermimpi... dia bekerja dan mencapai mimpinya. Dan dia masih terus bermimpi... menemukan Aling. Dia berjuang untuk dapat menemuinya. Buku yang sangat manis... lucu... manis... sangat inspiratif.

Andrea... I love you... ha-ha-ha

Thursday, November 22, 2007

LASKAR PELANGI


Berapa banyak bagian depan, bagian dedikasi buku yang ditujukan kepada guru, terutama guru waktu SD dan/atau SMP? Dari sekian banyak buku yang pernah aku baca, juga skripsi kalau dimasukkan sebagai hitungan, inilah satu-satunya buku yang didedikasikan kepada guru. Pertama kali aku membacanya, aku langsung berfikir berarti guru itu benar-benar menorehkan kesan yang mendalam pada penulis buku yang menjadi best-seller ini. Apakah berarti kita bisa membalik, mengatakan bahwa kalau selama ini tidak ada buku yang didedikasikan untuk particular guru, membuktikan bahwa guru tidak meninggalkan kesan mendalam? Wallahualam.

Andrea membuka halaman pertama menceritakan sekolah miskin di tahun ajaran baru. Ada 9 murid yang sudah siap masuk kelas saat itu, si Ikal, Lintang, Kucai, Mahar, Bore (di kemudian hari dikenal dengan sebutan Samson), A Kiong, Sahara, Syahdan dan Trapani. Dan sekolah itu terancam tutup karena sudah bertahun-tahun jumlah muridnya cuma sekitar 10-11. Ultimatum dari Dinas, sekolah akan ditutup bila tahun itu menerima kurang dari 10 murid. Maka, nasib Ikal dan teman-temannya akhirnya ditentukan oleh Harun, murid dengan kemampuan di bawah normal itu akhirnya menyelamatkan sekolah itu dari tutup di awal tahun.

Bab I yang hanya beberapa lembar itu akhirnya membuatku terisak ketika ditutup dengan kalimat: Air mata guru muda ini (Ibu Mus, buku ini didedikasikan untuknya dan Bapak Kepala Sekolah) surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras.

Bab selanjutnya ditulis dengan sangat briliant (seandainya memang aku seorang kritikus tulisan, maka ini yang akan kutuliskan, briliant) oleh Andrea. Anak-anak sekolah yang miskin, sekolah yang miskin, pelajaran, dinamika dan last but not least jurang kesejahteraan antara kaum kaya dan kaum miskin. Kesepuluh anak itu disebut sebagai laskar pelangi karena mereka sangat suka memandangi pelangi ketika senja dari atas pohon di halaman sekolah mereka.

Aku sendiri melihat mereka pantas disebut laskar pelangi karena keunikan semua anak itu seperti layaknya pelangi, yang berbeda namun memberi warna yang indah. Ada Bore yang mengukur keberhasilan dengan kekuatan ototnya, sehingga dia lebih senang dipanggil Samson, Sahara, satu-satunya anak perempuan yang galak minta ampun pada A Kiong, tapi sangat sabar dan perhatian pada Harun. A Kiong yang disebut Ikal seagai pemuda kaleng kerupuk, Mahar seniman sejati dan tentu saja Lintang, bintang kelas, si jenius yang mencengangkan. Tidak ketinggalan Syahdan yang selalu bermimpi jadi aktor atau Kucai, sang politisi. Semua membuat kita menangis, tertawa yang sering kali terjadi pada saat bersamaan.

Kita tidak akan menemukan cerita klise ketika dia membicarakan tambang timah di negerinya di mana orang lokal menjadi pekerja dan orang luar (baca: orang Jawa?) menikmati keuntungan terbesar. Tapi, kita diperhadapkan dengan kenyataan di depan mata, betapa jurang kaya-miskin di Indonesia adalah hal yang ada di depan hidung kita. Kita bertemu setiap hari.

Ketika anak-anak SD Muhammadiyah ini berjuang untuk sekolah sambil bekerja, anak-anak PN (tambang timah) menikmati kemewahan yang tiada tara. Sekolah dengan semua fasilitas dinikmati anak-anak PN timah, sementara ikal dan kawan-kawan menyebut sekolah mereka gubuk kopra yang doyong. Acara 17-an yang menjadi kegiatan pamer kemampuan dan kekayaan sekolah PN timah, menjadi mimpi buruk buat laskar pelangi karena mereka tidak punya fasilitas apapun untuk ditampilkan.

Membaca Laskar Pelangi, seperti membaca artikel-artikel tentang pendidikan yang sangat mahal di Indonesia, hanya saja yang ini ditampilkan dengan sangat –sekali lagi—briliant. Menarik, ketika melihat pola mengajar Ibu Mus dan Pak Harfan yang sangat active learning! Aku bukanlah seorang ahli active learning, tapi dari materi yang pernah diberikan seorang teman kepadaku, aku melihat kalau kedua guru itu tidak mengajar seperti guru kebanyakan, atau seperti guruku waktu aku sekolah.

Bu Mus, yang menceritakan sejarah ataupun ketika dia ingin meningkatkan semangat Kucai untuk menjadi ketua kelas, semangat demokrasi dan child participation dikedepankan. Heran juga, harusnya NGO anak yang sedang sibuk berkutat dengan child participation bisa mengundang Bu Mus dan Pak Harfan menjadi narasumber. Mereka adalah contoh hidup dari active learning dan child participation focused.

Membaca buku ini, semangat tentang sekolah, terasa terpompa. Andrea menulis kemarahannya ketika sang Einstein, Lintang harus meninggalkan sekolah karena ayahnya meninggal sehingga tidak ada lagi yang membiayai sekolahnya. Lintang, sang jenius yang mengalahkan guru lulusan terbaik sekolah tinggi terbaik dalam debat fisika, Lintang yang mengayuh sepedanya setiap hari sejauh 80km pp, Lintang yang membawa harum nama sekolah dalam lomba tingkat kabupaten, Lintang yang menginspirasi teman-temannya untuk memiliki cita-cita, akhirnya kandas karena tidak ada biaya. Padahal dia sudah bersekolah di sekolah yang paling murah, dia tidak perlu bayar. Lalu kenapa dia harus berhenti sekolah? Karena tidak orang yang akan menghidupi adik, kakak, paman, nenek dan ibunya! Dunia macam apa ini? Sedangkan di sudut anak, seorang anak kaya membuang-buang kesempatan sekolah dan kursus karena dia tidak tertarik. Padahal dia ada di sekolah yang bagus, di tangan guru-guru yang terlatih, dengan semua fasilitas yang ada.

Laskar Pelangi, membacanya, kita menyadari, betapa harusnya kita bersyukur, ketika kita bisa membacanya, berarti kita tidak bernasib sama dengan Lintang, yang akhirnya hidup membujang untuk menghidupi keluarganya. Membaca buku ini, membuat kita merasa betapa mimpi ternyata bisa jadi kenyataan. Membaca buku ini, mudah-mudahan juga membuat kita ikut prihatin dan ambil bagian dalam mutu pendidikan di Indonesia.

Tahukah Andrea Hirata kalau aku sangat mengaguminya? Sayang waktu dia ke Yogya aku ga sempat ketemuan.

Aku menantikan buku ke-empatnya.

Sang Pemimpi


Buku kedua Andrea Hirata ini merupakan lanjutan kehidupan si Ikal di SMU. Di sini, tokoh Ikal, tidak lagi ditemani anggota Laskar Pelangi. Tokoh baru di sini adalah Arai, sepupunya yang digambarkan dengan sangat... tidak tampan, dan juga Jimbron, sahabatnya yang kalau sedang exited maka akan berubah menjadi gagap.

Mereka tinggal di kontrakan kecil, sekitar 40km lebih dari rumahnya. Mereka harus bekerja dari dini hari sebagai kuli 'ngambat' atau tukang pikul ikan-ikan ketika nelayan merapat ke pantai dan pekerjaan kasar lainnya untuk menghidupi diri dan biaya sekolah mereka.

Buatku, buku ini adalah buku yang memberi tanda tebal, garis bawah dan cetak miring untuk suatu kata yang sering kita dengar, “The power of dream.” Tokoh Arai, adalah tokoh sentral dalam cerita ini. Si tonggos ini dikisahkan dengan sangat manis oleh Andrea sejak awal pertemuan mereka. Saudara sepupu, sebatangkara, tapi bukannya egois, Arai malah tumbuh menjadi anak yang sangat perhatiaan atas masalah orang lain. Dia juga yang menciptakan mimpi mereka.

“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!” itulah kata-kata Arai.

Arai, yang sangat mengagumi Jim Morrison, Jimbron yang menyukai Laksmi dan Ikal yang menyukai Rhoma Irama, bertiga mereka mengisi hari mereka, hidup mereka dan berusaha meraih mimpi mereka. Jika Arai dan Ikal bermimpi sekolah ke Prancis, apakah mimpi Jimbron? Si gagap yang mencintai Laksmi dan kuda ini, berusaha membantu kedua sahabatnya untuk mewujudkan mimpi mereka. Sepanjang 3 tahun, dia menabung untuk kedua sahabatnya.

“Dari dulu tabungan itu memang kusiapkan buat kalian, kalian berangkat saja ke Jawa. Pakailah uang ini, kejarlah cita-cita, biarlah hidupku berarti. Jika dapat kuberikan lebih dari celengan ini, akan kuberikan untuk kalian. Merantaulah, jika kalian sapai ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika, itu artinya aku juga sampai ke sana, bersama-sama dengan kalian."

Mengingat cerita itu sekarang, ketika menuliskan ini mampu membuatku merinding terharu. Anak-anak miskin dari Belitong, yang bahkan ketika mereka mau melanjutkan SMU, mereka harus membiayai sekolah dan hidup mereka sendiri, plus memberi sebagian untuk orangtua mereka. Berani-beraninya mereka bermimpi untuk sekolah ke Prancis!!

Bila ada kemauan, selalu ada jalan. Itulah mungkin yang sedang diutarakan Andrea. Simak langkah pertama mereka lulus SMU, mereka berjuang untuk pergi ke Jakarta. Bukannya ke Jakarta, mereka malah nyasar ke Bogor. Apakah mereka berhenti di langkah awal? Ga tuh.

Kekocakan Andrea bisa terlihat di sini. Sepanjang buku, kisah getir tidak selalu digambarkan dengan air mata, tapi dengan gelak tawa. Dia, bisa menertawakan dirinya. Aku masih tersenyum membayangkan Arai dan gayanya menyanyikan lagu di depan jendela kamar pujaan hatinya, Jimbron dan demam kudanya, tipu daya Arai tentang KFC di depan tugu Kujang (aku kenal sekali tempat itu), isi koper mereka setibanya di Bogor: ikan asin, segala macam bumbu, botol-botol madu, pil andalan untuk semua penyakit: APC, obat cacing, pompa sepeda termasuk lumpang dan alu hehehe.

Pun, kisah getir ketika Ikal berteriak putus asa, merasakan kesedihan dan kesepian Arai dalam lantunan ayat-ayat suci ketika dia mengaji, terharu merasakan kedekatan mereka berdua. Amarah Arai ketika prestasi Ikal yang anjlok. Aku seperti bisa merasakan lelah ketika Ikal mengejar Ayahnya setelah kejadian pembagian raport, frustasi Arai untuk cinta Nurmala yang tak kunjung datang. Kesedihan yang terasa juga ketika Ikal dan Arai yang harus berpisah karena—lagi-lagi mereka harus membiayai hidup mereka.

Tidak ada kata putus asa, “Jangan mendahului nasib!” teriaknya ketika Ikal putus asa. Mungkin dia juga meneriakkan kepada kita? Mungkin.

Kisah ditutup dengan manis ketika mereka masing-masing menamatkan kuliah mereka dengan biaya mereka sendiri. Menggenapi semua janji yang mereka buat di dermaga Belitong. Tidak kalah manis ketika mereka sama-sama memperoleh beasiswa untuk universitas yang sama, yang mereka cita-citakan dari dulu, Prancis.

Tidak ada yang mustahil ketika kita berusaha

Monday, November 19, 2007

By River of Piedra I Sat Down and Wept

Ini buku favorit kedua dari sekian banyak bukunya Paolo Coelho. Yang pertama tentu saja The Alchemist. Yang ketiga, aku suka The Zahir. Aku tidak terlalu mengerti tentang konsep The Fifth Mountain. Walaupun aku sangat ingat, dalam buku inilah, istilah favoritku tentang Satu-satunya doa yang tidak akan dikabulkan Tuhan adalah ketika kita meminta untuk tidak mencintai seseorang kutemukan.

Buku ini berbicara tentang kisah cinta. Cinta yang dimulai di masa kecil, waktu teen-age. Dua orang sahabat, selalu bersama ke manapun mereka pergi, hingga suatu hari sang pria pergi berkelana. Pilar, si gadis, melanjutkan sekolah dan mimpinya (pertanyaan: apakah dia pernah punya mimpi sebelum bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya?).

Ada banyak cerita menarik yang ditampilkan dalam perjalanan mereka menemukan 'hati' Pilar. Aku suka menggunakan istilah 'hati' Pilar, karena Pilar-lah yang belum menemukan 'hati'nya sedangkan si pria sudah tahu perasaannya sejak lama, kecuali, bahwa dia tidak tahu apakah dia akan meneruskan hidupnya bersama Pilar, atau menjadi imam, yang selibat, seperti yang selama ini dia pikir dia inginkan.

Belajar tentang cinta yang memberi, kudapatkan di buku ini. Kita memberi apa yang kita rasa yang terbaik untuk pasangan kita, meski itu berarti kita harus mengorbankan apa yang kita punya, apa yang kita impikan. Dan kita tidak merasa terpaksa. Karena memang cinta berarti memberi. Tulus.

Pilar, berencana melepaskan mimpinya. Mengikuti sahabat masa kecilnya yang akhirnya dia cintai. Sayangnya (?) di sisi lain, si pria, melepaskan karunia yang dia punya, sehingga dia dan Pilar bisa menghabiskan hidup bersama, di rumah impian mereka, dengan semua isinya dan anak yang nanti akan mereka miliki. Mereka melepaskan semua yang mereka sayang untuk orang yang mereka sayang. Bila salah seorang melepaskan sesuatu untuk impian orang yang mereka sayang, rasanya sangat romantis. Lalu bagaimanakah jadinya bila mereka saling melepaskan impian mereka untuk impian pasangan masing-masing yang justru sudah melepaskan impiannya?

Persis seperti ilustrasi yang dicerita seorang nenek tua di buku ini: dua orang sahabat sudah mencintai sejak kecil, mereka sangat miskin bahkan sampai mereka dewasa. Ketika dewasa, mereka memutuskan untuk menikah. Menjadi budaya di sana, sang mempelai akan saling bertukar hadiah. Si gadis memiliki rambut panjang jadi sang pria ingin membelikannya jepitan, jadi dia menjual satu-satunya harta yang dia miliki, jam tangannya untuk membelikan mempelainya jepitan. Si gadis, menjual rambut panjangnya, untuk membelikan si pria tali jam baru. Pada hari pernikahan mereka, si gadis memberikan hadiah tali jam untuk jam tangan yang sudah dijual si pria untuk rambut si gadis yang sudah dipotongnya. Ironis.

Karena itu, Pilar duduk di sungai Piedra dan menangis.

Friday, November 2, 2007

Sokola Rimba


Kuawali blog ini dengan menuliskan salah satu buku yang menginspirasi aku untuk mengejar impianku. Kuawali juga blog ini dengan menuliskan kesanku tentang buku Sokola Rimba, karena aku sudah bertemu dengan penulisnya. Langsung! Dan kita diskusi banyak tentang buku dan programnya.

Sokola Rimba,
buku ini menceritakan tentang pengalaman Butet Manurung mengawali pertualangannya dengan para orang rimba di pedalaman Jambi. Membaca buku ini membuat aku bisa merasakan keprihatinannya, keresahannya dan teman-temannya, protesnya atas kebijakan lokal maupun organisasi tempat dia bekerja dulu dan juga semangatnya untuk membuktikan perubahan itu perlu.

Membaca buku ini membuatku bisa merasakan tebalnya hutan di sana, keakraban pun kesulitan juga kemampuan orang rimba dalam bertahan hidup di antara hutan mereka yan sudah semakin berkurang.

Hal penting yang kupelajari di buku ini adalah: Satu, bekerja dengan hati, berarti kamu bakal habis-habisan, berjuang untuk mencapai apa yang kamu percaya. Waktu bertemu, aku pernah bertanya ke Butet: pernah merasa bosan? Pengen keluar dari semua ini? Dengan senyumnya yang manis dia bilang, sekali-sekali, ketika aku merasa orang terlalu menuntut banyak dariku. Biasanya karena capek, tapi abis itu aku lupa. Intinya, lebih karena dari luar, bukan dari masyarakat yang dia layani. Kedua dan yang terpenting, seperti yang dia tuliskan untukku, intinya adalah: kejarlah mimpimu.

Mengejar mimpi. Di buku itu, dia menceritakan bagaimana dia dan teman-temannya mengejar mimpi untuk mendirikan sokola rimba itu. Jatuh bangun, dengan segala cara berusaha mewujudkan mimpinya jadi nyata.

Buku yang menarik. Menginspirasi