Berapa banyak bagian depan, bagian dedikasi buku yang ditujukan kepada guru, terutama guru waktu SD dan/atau SMP? Dari sekian banyak buku yang pernah aku baca, juga skripsi kalau dimasukkan sebagai hitungan, inilah satu-satunya buku yang didedikasikan kepada guru. Pertama kali aku membacanya, aku langsung berfikir berarti guru itu benar-benar menorehkan kesan yang mendalam pada penulis buku yang menjadi best-seller ini. Apakah berarti kita bisa membalik, mengatakan bahwa kalau selama ini tidak ada buku yang didedikasikan untuk particular guru, membuktikan bahwa guru tidak meninggalkan kesan mendalam? Wallahualam.
Andrea membuka halaman pertama menceritakan sekolah miskin di tahun ajaran baru. Ada 9 murid yang sudah siap masuk kelas saat itu, si Ikal, Lintang, Kucai, Mahar, Bore (di kemudian hari dikenal dengan sebutan Samson), A Kiong, Sahara, Syahdan dan Trapani. Dan sekolah itu terancam tutup karena sudah bertahun-tahun jumlah muridnya cuma sekitar 10-11. Ultimatum dari Dinas, sekolah akan ditutup bila tahun itu menerima kurang dari 10 murid. Maka, nasib Ikal dan teman-temannya akhirnya ditentukan oleh Harun, murid dengan kemampuan di bawah normal itu akhirnya menyelamatkan sekolah itu dari tutup di awal tahun.
Bab I yang hanya beberapa lembar itu akhirnya membuatku terisak ketika ditutup dengan kalimat: Air mata guru muda ini (Ibu Mus, buku ini didedikasikan untuknya dan Bapak Kepala Sekolah) surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras.
Bab selanjutnya ditulis dengan sangat briliant (seandainya memang aku seorang kritikus tulisan, maka ini yang akan kutuliskan, briliant) oleh Andrea. Anak-anak sekolah yang miskin, sekolah yang miskin, pelajaran, dinamika dan last but not least jurang kesejahteraan antara kaum kaya dan kaum miskin. Kesepuluh anak itu disebut sebagai laskar pelangi karena mereka sangat suka memandangi pelangi ketika senja dari atas pohon di halaman sekolah mereka.
Aku sendiri melihat mereka pantas disebut laskar pelangi karena keunikan semua anak itu seperti layaknya pelangi, yang berbeda namun memberi warna yang indah. Ada Bore yang mengukur keberhasilan dengan kekuatan ototnya, sehingga dia lebih senang dipanggil Samson, Sahara, satu-satunya anak perempuan yang galak minta ampun pada A Kiong, tapi sangat sabar dan perhatian pada Harun. A Kiong yang disebut Ikal seagai pemuda kaleng kerupuk, Mahar seniman sejati dan tentu saja Lintang, bintang kelas, si jenius yang mencengangkan. Tidak ketinggalan Syahdan yang selalu bermimpi jadi aktor atau Kucai, sang politisi. Semua membuat kita menangis, tertawa yang sering kali terjadi pada saat bersamaan.
Kita tidak akan menemukan cerita klise ketika dia membicarakan tambang timah di negerinya di mana orang lokal menjadi pekerja dan orang luar (baca: orang Jawa?) menikmati keuntungan terbesar. Tapi, kita diperhadapkan dengan kenyataan di depan mata, betapa jurang kaya-miskin di Indonesia adalah hal yang ada di depan hidung kita. Kita bertemu setiap hari.
Ketika anak-anak SD Muhammadiyah ini berjuang untuk sekolah sambil bekerja, anak-anak PN (tambang timah) menikmati kemewahan yang tiada tara. Sekolah dengan semua fasilitas dinikmati anak-anak PN timah, sementara ikal dan kawan-kawan menyebut sekolah mereka gubuk kopra yang doyong. Acara 17-an yang menjadi kegiatan pamer kemampuan dan kekayaan sekolah PN timah, menjadi mimpi buruk buat laskar pelangi karena mereka tidak punya fasilitas apapun untuk ditampilkan.
Membaca Laskar Pelangi, seperti membaca artikel-artikel tentang pendidikan yang sangat mahal di Indonesia, hanya saja yang ini ditampilkan dengan sangat –sekali lagi—briliant. Menarik, ketika melihat pola mengajar Ibu Mus dan Pak Harfan yang sangat active learning! Aku bukanlah seorang ahli active learning, tapi dari materi yang pernah diberikan seorang teman kepadaku, aku melihat kalau kedua guru itu tidak mengajar seperti guru kebanyakan, atau seperti guruku waktu aku sekolah.
Bu Mus, yang menceritakan sejarah ataupun ketika dia ingin meningkatkan semangat Kucai untuk menjadi ketua kelas, semangat demokrasi dan child participation dikedepankan. Heran juga, harusnya NGO anak yang sedang sibuk berkutat dengan child participation bisa mengundang Bu Mus dan Pak Harfan menjadi narasumber. Mereka adalah contoh hidup dari active learning dan child participation focused.
Membaca buku ini, semangat tentang sekolah, terasa terpompa. Andrea menulis kemarahannya ketika sang Einstein, Lintang harus meninggalkan sekolah karena ayahnya meninggal sehingga tidak ada lagi yang membiayai sekolahnya. Lintang, sang jenius yang mengalahkan guru lulusan terbaik sekolah tinggi terbaik dalam debat fisika, Lintang yang mengayuh sepedanya setiap hari sejauh 80km pp, Lintang yang membawa harum nama sekolah dalam lomba tingkat kabupaten, Lintang yang menginspirasi teman-temannya untuk memiliki cita-cita, akhirnya kandas karena tidak ada biaya. Padahal dia sudah bersekolah di sekolah yang paling murah, dia tidak perlu bayar. Lalu kenapa dia harus berhenti sekolah? Karena tidak orang yang akan menghidupi adik, kakak, paman, nenek dan ibunya! Dunia macam apa ini? Sedangkan di sudut anak, seorang anak kaya membuang-buang kesempatan sekolah dan kursus karena dia tidak tertarik. Padahal dia ada di sekolah yang bagus, di tangan guru-guru yang terlatih, dengan semua fasilitas yang ada.
Laskar Pelangi, membacanya, kita menyadari, betapa harusnya kita bersyukur, ketika kita bisa membacanya, berarti kita tidak bernasib sama dengan Lintang, yang akhirnya hidup membujang untuk menghidupi keluarganya. Membaca buku ini, membuat kita merasa betapa mimpi ternyata bisa jadi kenyataan. Membaca buku ini, mudah-mudahan juga membuat kita ikut prihatin dan ambil bagian dalam mutu pendidikan di Indonesia.
Tahukah Andrea Hirata kalau aku sangat mengaguminya? Sayang waktu dia ke Yogya aku ga sempat ketemuan.
Aku menantikan buku ke-empatnya.
Andrea membuka halaman pertama menceritakan sekolah miskin di tahun ajaran baru. Ada 9 murid yang sudah siap masuk kelas saat itu, si Ikal, Lintang, Kucai, Mahar, Bore (di kemudian hari dikenal dengan sebutan Samson), A Kiong, Sahara, Syahdan dan Trapani. Dan sekolah itu terancam tutup karena sudah bertahun-tahun jumlah muridnya cuma sekitar 10-11. Ultimatum dari Dinas, sekolah akan ditutup bila tahun itu menerima kurang dari 10 murid. Maka, nasib Ikal dan teman-temannya akhirnya ditentukan oleh Harun, murid dengan kemampuan di bawah normal itu akhirnya menyelamatkan sekolah itu dari tutup di awal tahun.
Bab I yang hanya beberapa lembar itu akhirnya membuatku terisak ketika ditutup dengan kalimat: Air mata guru muda ini (Ibu Mus, buku ini didedikasikan untuknya dan Bapak Kepala Sekolah) surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras.
Bab selanjutnya ditulis dengan sangat briliant (seandainya memang aku seorang kritikus tulisan, maka ini yang akan kutuliskan, briliant) oleh Andrea. Anak-anak sekolah yang miskin, sekolah yang miskin, pelajaran, dinamika dan last but not least jurang kesejahteraan antara kaum kaya dan kaum miskin. Kesepuluh anak itu disebut sebagai laskar pelangi karena mereka sangat suka memandangi pelangi ketika senja dari atas pohon di halaman sekolah mereka.
Aku sendiri melihat mereka pantas disebut laskar pelangi karena keunikan semua anak itu seperti layaknya pelangi, yang berbeda namun memberi warna yang indah. Ada Bore yang mengukur keberhasilan dengan kekuatan ototnya, sehingga dia lebih senang dipanggil Samson, Sahara, satu-satunya anak perempuan yang galak minta ampun pada A Kiong, tapi sangat sabar dan perhatian pada Harun. A Kiong yang disebut Ikal seagai pemuda kaleng kerupuk, Mahar seniman sejati dan tentu saja Lintang, bintang kelas, si jenius yang mencengangkan. Tidak ketinggalan Syahdan yang selalu bermimpi jadi aktor atau Kucai, sang politisi. Semua membuat kita menangis, tertawa yang sering kali terjadi pada saat bersamaan.
Kita tidak akan menemukan cerita klise ketika dia membicarakan tambang timah di negerinya di mana orang lokal menjadi pekerja dan orang luar (baca: orang Jawa?) menikmati keuntungan terbesar. Tapi, kita diperhadapkan dengan kenyataan di depan mata, betapa jurang kaya-miskin di Indonesia adalah hal yang ada di depan hidung kita. Kita bertemu setiap hari.
Ketika anak-anak SD Muhammadiyah ini berjuang untuk sekolah sambil bekerja, anak-anak PN (tambang timah) menikmati kemewahan yang tiada tara. Sekolah dengan semua fasilitas dinikmati anak-anak PN timah, sementara ikal dan kawan-kawan menyebut sekolah mereka gubuk kopra yang doyong. Acara 17-an yang menjadi kegiatan pamer kemampuan dan kekayaan sekolah PN timah, menjadi mimpi buruk buat laskar pelangi karena mereka tidak punya fasilitas apapun untuk ditampilkan.
Membaca Laskar Pelangi, seperti membaca artikel-artikel tentang pendidikan yang sangat mahal di Indonesia, hanya saja yang ini ditampilkan dengan sangat –sekali lagi—briliant. Menarik, ketika melihat pola mengajar Ibu Mus dan Pak Harfan yang sangat active learning! Aku bukanlah seorang ahli active learning, tapi dari materi yang pernah diberikan seorang teman kepadaku, aku melihat kalau kedua guru itu tidak mengajar seperti guru kebanyakan, atau seperti guruku waktu aku sekolah.
Bu Mus, yang menceritakan sejarah ataupun ketika dia ingin meningkatkan semangat Kucai untuk menjadi ketua kelas, semangat demokrasi dan child participation dikedepankan. Heran juga, harusnya NGO anak yang sedang sibuk berkutat dengan child participation bisa mengundang Bu Mus dan Pak Harfan menjadi narasumber. Mereka adalah contoh hidup dari active learning dan child participation focused.
Membaca buku ini, semangat tentang sekolah, terasa terpompa. Andrea menulis kemarahannya ketika sang Einstein, Lintang harus meninggalkan sekolah karena ayahnya meninggal sehingga tidak ada lagi yang membiayai sekolahnya. Lintang, sang jenius yang mengalahkan guru lulusan terbaik sekolah tinggi terbaik dalam debat fisika, Lintang yang mengayuh sepedanya setiap hari sejauh 80km pp, Lintang yang membawa harum nama sekolah dalam lomba tingkat kabupaten, Lintang yang menginspirasi teman-temannya untuk memiliki cita-cita, akhirnya kandas karena tidak ada biaya. Padahal dia sudah bersekolah di sekolah yang paling murah, dia tidak perlu bayar. Lalu kenapa dia harus berhenti sekolah? Karena tidak orang yang akan menghidupi adik, kakak, paman, nenek dan ibunya! Dunia macam apa ini? Sedangkan di sudut anak, seorang anak kaya membuang-buang kesempatan sekolah dan kursus karena dia tidak tertarik. Padahal dia ada di sekolah yang bagus, di tangan guru-guru yang terlatih, dengan semua fasilitas yang ada.
Laskar Pelangi, membacanya, kita menyadari, betapa harusnya kita bersyukur, ketika kita bisa membacanya, berarti kita tidak bernasib sama dengan Lintang, yang akhirnya hidup membujang untuk menghidupi keluarganya. Membaca buku ini, membuat kita merasa betapa mimpi ternyata bisa jadi kenyataan. Membaca buku ini, mudah-mudahan juga membuat kita ikut prihatin dan ambil bagian dalam mutu pendidikan di Indonesia.
Tahukah Andrea Hirata kalau aku sangat mengaguminya? Sayang waktu dia ke Yogya aku ga sempat ketemuan.
Aku menantikan buku ke-empatnya.

No comments:
Post a Comment