Buku kedua Andrea Hirata ini merupakan lanjutan kehidupan si Ikal di SMU. Di sini, tokoh Ikal, tidak lagi ditemani anggota Laskar Pelangi. Tokoh baru di sini adalah Arai, sepupunya yang digambarkan dengan sangat... tidak tampan, dan juga Jimbron, sahabatnya yang kalau sedang exited maka akan berubah menjadi gagap.
Mereka tinggal di kontrakan kecil, sekitar 40km lebih dari rumahnya. Mereka harus bekerja dari dini hari sebagai kuli 'ngambat' atau tukang pikul ikan-ikan ketika nelayan merapat ke pantai dan pekerjaan kasar lainnya untuk menghidupi diri dan biaya sekolah mereka.
Buatku, buku ini adalah buku yang memberi tanda tebal, garis bawah dan cetak miring untuk suatu kata yang sering kita dengar, “The power of dream.” Tokoh Arai, adalah tokoh sentral dalam cerita ini. Si tonggos ini dikisahkan dengan sangat manis oleh Andrea sejak awal pertemuan mereka. Saudara sepupu, sebatangkara, tapi bukannya egois, Arai malah tumbuh menjadi anak yang sangat perhatiaan atas masalah orang lain. Dia juga yang menciptakan mimpi mereka.
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!” itulah kata-kata Arai.
Bila ada kemauan, selalu ada jalan. Itulah mungkin yang sedang diutarakan Andrea. Simak langkah pertama mereka lulus SMU, mereka berjuang untuk pergi ke Jakarta. Bukannya ke Jakarta, mereka malah nyasar ke Bogor. Apakah mereka berhenti di langkah awal? Ga tuh.
Pun, kisah getir ketika Ikal berteriak putus asa, merasakan kesedihan dan kesepian Arai dalam lantunan ayat-ayat suci ketika dia mengaji, terharu merasakan kedekatan mereka berdua. Amarah Arai ketika prestasi Ikal yang anjlok. Aku seperti bisa merasakan lelah ketika Ikal mengejar Ayahnya setelah kejadian pembagian raport, frustasi Arai untuk cinta Nurmala yang tak kunjung datang. Kesedihan yang terasa juga ketika Ikal dan Arai yang harus berpisah karena—lagi-lagi mereka harus membiayai hidup mereka.
Tidak ada kata putus asa, “Jangan mendahului nasib!” teriaknya ketika Ikal putus asa. Mungkin dia juga meneriakkan kepada kita? Mungkin.
Tidak ada yang mustahil ketika kita berusaha

No comments:
Post a Comment