Thursday, November 22, 2007

Sang Pemimpi


Buku kedua Andrea Hirata ini merupakan lanjutan kehidupan si Ikal di SMU. Di sini, tokoh Ikal, tidak lagi ditemani anggota Laskar Pelangi. Tokoh baru di sini adalah Arai, sepupunya yang digambarkan dengan sangat... tidak tampan, dan juga Jimbron, sahabatnya yang kalau sedang exited maka akan berubah menjadi gagap.

Mereka tinggal di kontrakan kecil, sekitar 40km lebih dari rumahnya. Mereka harus bekerja dari dini hari sebagai kuli 'ngambat' atau tukang pikul ikan-ikan ketika nelayan merapat ke pantai dan pekerjaan kasar lainnya untuk menghidupi diri dan biaya sekolah mereka.

Buatku, buku ini adalah buku yang memberi tanda tebal, garis bawah dan cetak miring untuk suatu kata yang sering kita dengar, “The power of dream.” Tokoh Arai, adalah tokoh sentral dalam cerita ini. Si tonggos ini dikisahkan dengan sangat manis oleh Andrea sejak awal pertemuan mereka. Saudara sepupu, sebatangkara, tapi bukannya egois, Arai malah tumbuh menjadi anak yang sangat perhatiaan atas masalah orang lain. Dia juga yang menciptakan mimpi mereka.

“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!” itulah kata-kata Arai.

Arai, yang sangat mengagumi Jim Morrison, Jimbron yang menyukai Laksmi dan Ikal yang menyukai Rhoma Irama, bertiga mereka mengisi hari mereka, hidup mereka dan berusaha meraih mimpi mereka. Jika Arai dan Ikal bermimpi sekolah ke Prancis, apakah mimpi Jimbron? Si gagap yang mencintai Laksmi dan kuda ini, berusaha membantu kedua sahabatnya untuk mewujudkan mimpi mereka. Sepanjang 3 tahun, dia menabung untuk kedua sahabatnya.

“Dari dulu tabungan itu memang kusiapkan buat kalian, kalian berangkat saja ke Jawa. Pakailah uang ini, kejarlah cita-cita, biarlah hidupku berarti. Jika dapat kuberikan lebih dari celengan ini, akan kuberikan untuk kalian. Merantaulah, jika kalian sapai ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika, itu artinya aku juga sampai ke sana, bersama-sama dengan kalian."

Mengingat cerita itu sekarang, ketika menuliskan ini mampu membuatku merinding terharu. Anak-anak miskin dari Belitong, yang bahkan ketika mereka mau melanjutkan SMU, mereka harus membiayai sekolah dan hidup mereka sendiri, plus memberi sebagian untuk orangtua mereka. Berani-beraninya mereka bermimpi untuk sekolah ke Prancis!!

Bila ada kemauan, selalu ada jalan. Itulah mungkin yang sedang diutarakan Andrea. Simak langkah pertama mereka lulus SMU, mereka berjuang untuk pergi ke Jakarta. Bukannya ke Jakarta, mereka malah nyasar ke Bogor. Apakah mereka berhenti di langkah awal? Ga tuh.

Kekocakan Andrea bisa terlihat di sini. Sepanjang buku, kisah getir tidak selalu digambarkan dengan air mata, tapi dengan gelak tawa. Dia, bisa menertawakan dirinya. Aku masih tersenyum membayangkan Arai dan gayanya menyanyikan lagu di depan jendela kamar pujaan hatinya, Jimbron dan demam kudanya, tipu daya Arai tentang KFC di depan tugu Kujang (aku kenal sekali tempat itu), isi koper mereka setibanya di Bogor: ikan asin, segala macam bumbu, botol-botol madu, pil andalan untuk semua penyakit: APC, obat cacing, pompa sepeda termasuk lumpang dan alu hehehe.

Pun, kisah getir ketika Ikal berteriak putus asa, merasakan kesedihan dan kesepian Arai dalam lantunan ayat-ayat suci ketika dia mengaji, terharu merasakan kedekatan mereka berdua. Amarah Arai ketika prestasi Ikal yang anjlok. Aku seperti bisa merasakan lelah ketika Ikal mengejar Ayahnya setelah kejadian pembagian raport, frustasi Arai untuk cinta Nurmala yang tak kunjung datang. Kesedihan yang terasa juga ketika Ikal dan Arai yang harus berpisah karena—lagi-lagi mereka harus membiayai hidup mereka.

Tidak ada kata putus asa, “Jangan mendahului nasib!” teriaknya ketika Ikal putus asa. Mungkin dia juga meneriakkan kepada kita? Mungkin.

Kisah ditutup dengan manis ketika mereka masing-masing menamatkan kuliah mereka dengan biaya mereka sendiri. Menggenapi semua janji yang mereka buat di dermaga Belitong. Tidak kalah manis ketika mereka sama-sama memperoleh beasiswa untuk universitas yang sama, yang mereka cita-citakan dari dulu, Prancis.

Tidak ada yang mustahil ketika kita berusaha

No comments: